Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Sistem Produksi. Show all posts
Showing posts with label Sistem Produksi. Show all posts

Pengertian : Konsep dan Metode Kanban

ASAL-USUL
Istilah Kamban menggambarkan kayu atau logam menghiasi tanda sering mewakili sebuah merek dagang atau segel. Kamban menjadi bagian penting dari adegan perdagangan Jepang pada abad ke-17, sangat mirip dengan militer telah panji-panji kepada para samurai. Visual permainan kata-kata, kaligrafi dan cerdik bentuk yang bekerja untuk menunjukkan perdagangan dan kelas bisnis atau pedagang.

Pada akhir 1940-an, Toyota mulai mempelajari supermarket dengan tujuan untuk menerapkan dan menyimpan stoking rak-teknik untuk lantai pabrik, memperkirakan, di supermarket, pelanggan mendapatkan apa yang mereka butuhkan, pada waktu yang diperlukan, dan dalam jumlah yang diperlukan. Selain itu, hanya supermarket saham-saham apa yang percaya itu akan menjual, dan pelanggan hanya mengambil apa yang mereka butuhkan karena pasokan masa depan terjamin. Ini menyebabkan Toyota untuk melihat proses sebagai pelanggan dari proses sebelumnya, dan proses-proses sebelumnya sebagai semacam toko. Proses pelanggan ini pergi ke toko untuk membeli komponen yang diperlukan, dan toko restocks. Seperti di supermarket, awalnya, papan yang digunakan untuk memandu "pembeli" Restocking spesifik lokasi.

"Kanban" menggunakan tingkat permintaan untuk mengontrol tingkat produksi, melewati permintaan dari pelanggan akhir melalui rantai proses pelanggan toko. Pada 1953, Toyota logika ini diterapkan dalam mesin pabrik utama mereka berbelanja

DEFINISI KANBAN
Kanban dalam bahasa jepang berarti "Visual record or signal". Sistem produksi JIT menggunakan aliran informasi berupa kanban yang berbentuk kartu atau peralatan lainnya seperti bendera,lampu dan lain-lain. Sistem kanban adalah suatu sistem informasi yang secara harmonis mengendalikan "produksi produk yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan pada waktu yang diperlukan" dalam tiap proses manufakturing dan juga diantara perusahaan. Menurut Taiichi Ohno, Kanban adalah suatu alat untuk mengendalikan produksi", yang digunakan dalam mengendalikan aliran-aliran material melalui sistem produksi JIT dengan menggunakan kartu-kartu untuk memerintahkan suatu work center memindahkan dan menghasilkan material atau komponen tertentu.

Persiapan Pra Kanban
Sebelum melakukan sistem kanban perlu dilakukan persiapan-persiapan dengan baik. Dalam SPT, penerapan sistem kanban didukung oleh persiapan-persiapan yang meliputi:

1. Pelancaran Produksi
Pelancaran produksi adalah syarat yang paling penting untuk produksi dengan kanban dan untuk meminimalkan waktu mengganggur dalam hal tenaga kerja, perlengkapan dan barang dalam pengolahan.
Pelancaran produksi memberikan beberapa keuntungan, yaitu memungkinkan operasi produksi menyesuaikan diri dengan cepat terhadap fluktuasi permintaan harian dengan secara rata memproduksi bebrbagai jenis produk setiap hari dalam jumlah kecil dan memungkinkan tanggapan terhadap variasi dalam pesqnan pelanggan tiap hari tanpa menyadarkan diri pada persediaan produk, serta jika semua proses mencapai produksi sesuai dengan waktu siklus, pengimbangan antar berbagai akan membaik dan persediaan WIP dapat berkurang.

2. Memperpendek Waktu Penyiapan
Untuk memperpendek waktu penyiapan perlu dilakukan dua fase penyiapan, yaitu:
a. Fase Penyiapan Eksternal
Yang terlebih daproses awal disiapkan adalah mal, peralatan, cetakan berikutnya dan bahan yang diperlukan.
b. Fase Penyiapan Internal
Fase dimana pekerja harus memusatkan perhatian pada pergantian cetakan, peralatan dan bahan sesuai dengan perincian yang terdapat dalam pesanan berikutnya.

3. Tata Letak Proses
Menurut SPT, tata letak proses dan mesin akan disusun kembali untuk melancarkan aliran produksi berdasarkan sistem Penanganan Proses Ganda (multi-proses holding) dimana pekerja menjadai pekerja fungsi ganda. Dalam suatu lini penanganan proses ganda, seorang pekerja menangani beberapa mesin dari berbagai proses satu per satu; pekerjaan di tiap proses akan berlangsung hanya bila pekerja itu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padanya dalam eaktu siklus yang ditentukan. Akibatnya masuknya tiap unit ke dalam lini diimbangi dengan selesainya unit produk akhir lainnya, seperti dipesan oleh operasi dari suatu waktu siklus.

4. Pembakuan Pekerjaan atau Operasi
Operasi baku menunjukkan operasi rutin yang dilakukan oleh pekerja yang menangani berbagai jenis mesin sebagai pekerja fungsi ganda. Operasi baku rutin ini menunjukkan urutan proses yang harus dikerjakan oleh seorang pekerja dalam proses penanganan ganda di bagiannya. Keseimbangan lini dapat dicapai di antara pekerja dalam bagian ini karena setiap pekerja akan mengakhiri semua proses operasi sesuai waktu siklus.

5. Autonomasi
Autonomasi berarti membuat suatu mekanisme untuk mencegah diproduksinya barang cacat secara masal pada mesin atau lini produk. Untuk mencapai JIT sempurna, unit yang 100% bebas cacat harus mengalir ke proses berikut secara kontinu tanpa terputus. Karena itu pengendalian mutu harus selalu berdampingan dengan operasi JIT dalam seluruh sistem Kanban.

6. Aktivitas Perbaikan
Aktivitas perbaikan adalah suatu unsur pokok dari sistem produksi yang membuat sistem produksi sungguh-sungguh dapat bekerja dengan baik. Tiap karyawan mempunyai kesempatan untuk memberikan saran dan mengusulkan perbaikan lewat suatu gugus kecil yang disebut Gugus Kendali Mutu (GKM). GKM adalah sekelompok kecil pekerja yang mempelajari konsep dan teknik kendali mutu secara spontan dan terus menerus untuk memberi pemecahan masalah di tempat kerja.

FUNGSI KANBAN DAN ATURAN KANBAN

Fungsi Kanban
Kanban mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai pengendalian produksi dan sebagai sarana peningkatan produksi. Fungsinya sebagai pengendali produksi diperoleh dengan menyatukan proses bersama dan mengembangkan suatu sistem yang tepat waktu sehingga bahan baku, komponen atau produk yang dibutuhkan akan datang pada saat dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan di seluruh workcenter yang ada di lantai produksi, bahkan meluas sampai ke pemasok yang terkait dengan perusahaan. Sedangkan fungsinya sebagai sarana peningkatan produksi dapat diperoleh jika penerapannya dengan menggunkan pendekatan pengurangan tingkat persediaan. Tingkat persediaan dapat dikurangi secara terkendali melalui pengurangan jumlah Kanban yang beredar selama proses produksi.

Menurut Yasuhiro Monden secara terperinci sistem kanban digunakan untuk melakukan fungsi sebagai berikut:

Perintah
Kanban berlaku sebagai alat perintah antara produksi dan pengiriman. Kanban yang dituliskan merupakan suatu alamat yang menginformasikan proses sebelum tempat penyimpanan komponen yang telah diolah, dan menginformasikan proses yang sesudah tempat komponen yang dibutuhkan.

Pengendalian diri sendiri untuk mencegah over production.
Sistem kanban merupakan mekanisme pengendalian diri sendiri sehingga memungkinkan tiap proses melakukan penyesuaian kecil terhadap pasokan untuk jadwal produksi bulanannya karena adanya fluktuasi permintaan bulanan.

Pengendalian Visual
Sistem kanban barlaku sebagai alat untuk pengendalian visual karena bukan saja memberikan informasi numerik, tetapi juga informasi fisik dalam bentuk kartu kanban.

Perbaikan Proses dan Operasi Manual
Penggunaan sistem kanban untuk membantu perbaikan operasi sangat dibutuhkan karena peningkatan produktivitas mengakibatkan perbaikan keuangan sehingga memperbaiki perusahaan secara keseluruhan.

Pengurangan Biaya Pengelolaan
Sistem kanban juga berfungsi mengurangi biaya manajemen dengan membantu mengurangi jumlah perencanaan menjadi nol.

Ongkos Material Handling (OMH)

Material handling adalah salah satu jenis transportasi (pengangkutan) yang dilakukan dalam perusahaan industri, yang artinya memindahkan bahan baku, barang setengah jadi, atau barang jadi, dari tempat asal ke tempat tujuan yang telah ditetapkan. Pemindahan material dalam hal ini adalah bagaimana cara yang terbaik untuk memindahkan material dari satu tempat proses produksi ke tempat proses produksi yang lain.

Kegiatan material handling adalah kegiatan yang tidak produktif, karena pada kegiatan ini bahan tidak mendapat perubahan bentuk atau perubahan nilai, sehingga sebenarnya akan mengurangi kegiatan yang tidak efektif dan mencari ongkos material handling terkecil. Menghilangkan transportasi, tidaklah mungkin dilakukan, maka caranya adalah dengan melakukan hand off, yaitu menekan jumlah ongkos yang digunakan untuk biaya transportasi. Menekan jumlah ongkos transportasi dapat dilakukan dengan cara menghapus langkah transportasi, mekanisasi, atau meminimasi jarak.
Di dalam merancang tata letak pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan (material handling) merupakan salah satu hal yang cukup penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Pentingnya masalah pemindahan bahan ini karena tujuan utama dari pemindahan bahan berhubungan langsung dengan suatu cakupan yang luas yang berurusan dengan efisiensi produksi menyeluruh.

Ongkos material handling adalah suatu ongkos yang timbul akibat adanya aktivitas material dari satu mesin ke mesin lain atau dari suatu departemen ke departemen lain yang besarnya ditentukan pada satuan tertentu. Satuannya adalah rupiah/meter gerakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan ongkos material handling adalah alat angkut yang digunakan, jarak pengangkutan dan cara pengangkutannya.
Sedangkan tujuan dibuatnya perencanaan material handling adalah :
a. Meningkatkan kapasitas
b. Memperbaiki kondisi kerja
c. Memperbaiki pelayanan kepada konsumen
d. Meningkatkan kelengkapan dan kegunaan ruangan
e. Mengurangi ongkos
Pada dasarnya setelah ditentukan alat angkut serta jarak untuk setiap pengangkutan, maka ongkos material handling dapat segera diketahui, dimana:
Total OMH = Ongkos alat angkut per meter gerakan x jarak tempuh pengangkutan
Untuk mencari ongkos per periode waktu tertentu, dapat dihitung dengan menambahkan frekuensi pengangkutan per satuan waktu yang diinginkan. Misalnya untuk menghitung OMH dalam 1 hari kerja adalah:
Total OMH = Ongkos alat angkut per meter gerakan x jarak tempuh pengangkutan x frekuensi pengangkutan dalam 1 hari.

Area Allocation Diagram (AAD) & Contoh Studi Kasus

Di dalam dunia industri, masalah tata letak pabrik maupun tata letak fasilitas dan peralatan produksi merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam peningkatan produktivitas perusahaan. Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Tata letak pabrik (plant layout) atau tata letak fasilitas (facilities layout) dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi, diketahui bahwa jarak material handling (pemindahan bahan) dari areal yang satu ke areal yang lain terlalu panjang, hal ini akan mempengaruhi lintasan dan waktu proses dari produksi. Mulai dari faktor lingkungan sekitar pabrik dan layout dalam pabrik. Layout dalam pabrik berpengaruh pada saat proses produksi berlangsung. Jika layout dalam pabrik tidak efektif, maka pabrik akan mengalami permasalahan dari segi biaya dan waktu.



What is Area Allocation Diagram (AAD) ?
Area Allocation Diagram (AAD) merupakan kelanjutan dari ARC dimana dalam ARC diketahui kesimpulan dari tingkat kepentingan antar aktivitas. Maka dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas yang lainnya dan juga sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut. Kedekatan tata letak aktivitas tersebut dapat dilihat dalam Area Allocation Diagram (AAD). AAD merupakan gambaran layout secara global yang menggambarkan hubungan kedekatan antar departemen dengan skala ukuran luas lantai yang sebenarnya. Input dari pembuatan AAD ini adalah Area Relation Diagram dan data luas lantai setiap departemen. Ukuran setiap departemen pada AAD akan disesuaikan dengan luas lantai dan piñataletakan awal pada ARD yang telah terbentuk

Contoh Studi Kasus
PT Sepatu Olah Raga (PT SOR) adalah perusahaan yang bergerak dibidang produksi sepatu olah raga. Produk utamanya adalah sepatu olah raga kulit klasik. Pada saat ini, PT SOR berencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya guna mengantisipasi kemungkinan permintaan pasar yang semakin bertambah. Untuk merealisasikan rencana tersebut, manajemen perusahaan menyadari bahwa tidak mungkin mempercepat waktu produksi yang sudah maksimal. Alternatif jalan keluar adalah menambah mesin produksi. Namun tata letak (layout) pabrik saat ini kurang mendukung cara ini. Oleh karena itu, penambahan mesin memberikan konsekuensi perlunya menyusun layout baru lantai produksi dan mengubah susunan departemen. Pengerjaan tugas akhir oleh penulis ini mencoba menyusun dan menyarankan layout baru lantai produksi PT SOR yang dapat mendukung peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai target unit produksi per hari yang diinginkan manajemen.

Pertama-tama, yang dilakukan oleh penulis adalah mengolah data awal yaitu membuat Peta Proses Aliran, membuat Routing Sheet, membuat Peta Proses Darab, menghitung jumlah mesin yang dibutuhkan, menghitung kebutuhan luas lantai produksi, menghitung kebutuhan luas gudang bahan baku dan bahan pembantu serta luas gudang barang jadi. Kemudian dilanjutkan dengan Metode Kuantitatif yaitu menghitung biaya penanganan material dengan menggunakan Material Handling Planning Sheet (MHPS), membuat From To Chart (FTC) Biaya, FTC Inflow dan FTC Outflow, serta menyusun Skala Prioritas Inflow dan Outflow yang akan digunakan untuk membuat Activity Relationship Diagram (ARD), lalu membuat Area Allocation Diagram (AAD) yang kemudian diikuti dengan penghitungan biaya penanganan material dengan menggunakan Material Handling Evaluation Sheet (MHES). Setelah itu dilanjutkan Metode Kualitatif yaitu membuat Activity Relationship Chart (ARC), menyusun Skala Prioritas, membuat Activity Relationship Diagram (ARD), membuat Area Allocation Diagram (AAD) yang kemudian diikuti dengan penghitungan biaya penanganan material dengan menggunakan Material Handling Evaluation Sheet (MHES). Kemudian dilanjutkan dengan Me tode Algoritma Genetik yaitu membentuk populasi yang berasal dari kromosom induk, menghitung fungsi tujuan dari setiap kromosom, menciptakan sebuah populasi baru dengan cara seleksi, kawin silang (Crossover), mutasi dan penerimaan yang hasilnya kemudian dibuat Area Allocation Diagram (AAD). Kemudian dibuat perbandingan dari ketiga layout alternatif dari hasilpenghitungan dengan ke tiga metode diatas berdasarkan kriteria biaya , jarak material handling dan luas layout. Dari hasil perbandingan ini dapat disimpulkan bahwa layout dari Metode Algoritma Genetik merupakan layout terbaik dengan biaya material handling sebesar Rp 14,380,520.66 per hari , jarak material handling 7,921.01 m dan luas layout 45,424.15 m². Metode Kuantitatif menghasilkan layout dengan biaya material handling sebesar Rp 14,544,056.36 per hari, jarak material handling 8,221.74m dan luas layout 45,424.15 m². Sedangkan Metode Kualitatif menghasilkan layout dengan biaya sebesar Rp 14,725,991.64 per hari, jarak material handling 8,989.63 m dan luas layout 55,335.05 m².

Customer relationship management (CRM)

Manajemen Hubungan Pelanggan - Dalam beberapa dekade saat ini banyak sekali permasalahan - permasalahan yang terjadi didalam beberapa perusahaan, yang berkaitan dengan konsumen atau customer. Pelanggan merupakan hal yang sangat urgent dalam hal tersebut, lalu apa yang seharusnya dilakukan perusahaan? Munkin CRM bisa menengahi hal ini. 

" Menurut  Kalakota dan Robinson : 2001, CRM sebagai integrasi dari strategi penjualan, pemasaran, dan pelayanan yang terkoordinasi.
Menurut Laudon dan Traver : 2002, CRM menyimpan informasi pelanggan dan menyimpan serta merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut.
Menurut Kotler : 2003, CRM mendukung suatu perusahaan untuk menyediakan pelayanan kepada pelanggan secara real time dan menjalin hubungan dengan tiap pelanggan melalui penggunaan informasi tentang pelanggan.
Menurut Haryati, S : 2003, CRM didefinisikan sebagai sebagai suatu rangkaian aktifitas sistematik yang terkelola sebagai usaha untuk semakin memahami, menarik perhatian, dan mempertahankan loyalitas pelanggan yang menguntungkan ( Most Profitable Customer ) demi mencapai pertumbuhan perusahaan yang sehat. "

Pengertian lain mengatakan bahwa ia adalah sebuah sistem informasi yang terintegrasi yang digunakan untuk merencanakan, menjadwalkan, dan mengendalikan aktivitas-aktivitas prapenjualan dan pascapenjualan dalam sebuah organisasi. CRM melingkupi semua aspek yang berhubungan dengan calon pelanggan dan pelanggan saat ini, termasuk di dalamnya adalah pusat panggilan (call center), tenaga penjualan (sales force), pemasaran, dukungan teknis (technical support) dan layanan lapangan (field service). Costumer Relation Management adalah salah satu aplikasi dari ilmu MIS. 

Sasaran dan Tujuan


Sasaran utama dari CRM adalah untuk meningkatkan pertumbuhan jangka panjang dan profitabilitas perusahaan melalui pengertian yang lebih baik terhadap kebiasaan (behavior) pelanggan. CRM bertujuan untuk menyediakan umpan balik yang lebih efektif dan integrasi yang lebih baik dengan pengendalian return on investment (ROI) di area ini.
Otomasi Tenaga Penjualan (Sales force automation/SFA), yang mulai tersedia pada pertengahan tahun 80-an adalah komponen pertama dari CRM. SFA membantu para sales representative untuk mengatur account dan track opportunities mereka, mengatur daftar kontak yang mereka miliki, mengatur jadwal kerja mereka, memberikan layanan training online yang dapat menjadi solusi untuk training jarak jauh, serta membangun dan mengawasi alur penjualan mereka, dan juga membantu mengoptimalkan penyampaian informasi dengan news sharing.SFA, pusat panggilan (bahasa inggris:call center) dan operasi lapangan otomatis ada dalam jalur yang sama dan masuk pasaran pada akhir tahun 90-an mulai bergabung dengan pasar menjadi CRM. Sama seperti ERP (bahasa Inggris:Enterprise Resource Planning), CRM adalah sistem yang sangat komprehensif dengan banyak sekali paket dan pilihan.
Merujuk kepada Glen Petersen, penulis buku "ROI: Building the CRM Business Case," sistem CRM yang paling sukses ditemukan dalam organisasi yang menyesuaikan model bisnisnya untuk profitabilitas, bukan hanya merancang ulang sistem informasinya.
CRM mencakup metoda dan teknologi yang digunakan perusahaan untuk mengelola hubungan mereka dengan pelanggan. Informasi yang disimpan untuk setiap pelanggan dan calon pelanggan dianalisa dan digunakan untuk tujuan ini. Proses otomasi dalam CRM digunakan untuk menghasilkan personalisasi pemasaran otomatis berdasarkan informasi pelanggan yang tersimpan di dalam sistem.

Fungsi-fungsi dalam CRM

Sebuah sistem CRM harus bisa menjalankan fungsi:
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang penting bagi pelanggan.
- Mengusung falsafah customer-oriented (customer centric)
- Mengadopsi pengukuran berdasarkan sudut pandang pelanggan
- Membangun proses ujung ke ujung dalam melayani pelanggan
- Menyediakan dukungan pelanggan yang sempurna
- Menangani keluhan/komplain pelanggan
- Mencatat dan mengikuti semua aspek dalam penjualan
- Membuat informasi holistik tentang informasi layanan dan penjualan dari pelanggan.

Mengimplementasikan CRM

Customer relationship management adalah strategi tingkat korporasi, yang berfokus pada pembangunan dan pemeliharaan hubungan dengan pelanggan. Beberapa paket perangkat lunak telah tersedia dengan pendekatan yang berbeda-beda terhadap CRM. Bagaimanapun, CRM bukanlah teknologi itu sendiri, tapi ia adalah pendekatan holistik terhadap falsafah organisasi, yang menekankan hubungan yang erat dengan pelanggan. CRM mengurus filosofi organisasi pada semua tingkatan, termasuk kebijakan dan proses, customer service, pelatihan pegawai, pemasaran, dana manajemen sistem dan informasi. Sistem CRM mengintegrasikan pemasaran, penjualan, dan customer service dari ujung ke ujung.

Permasalahan Implementasi CRM


Naiknya pendapatan, kepuasan konsumen, dan lebih sedikitnya biaya operasi adalah beberapa keuntungan dari teknologi pada sebuah perusahaan. Namun implementasi akan turun drastis jika salah satu dari aspek ini diabaikan:
Perencanaan: Langkah awal akan bisa dengan mudah gagal jika usaha untuk memilih dan meluncurkan perangkat lunak tidak maksimal.
Integrasi: Integrasi dengan kebutuhan konsumen akan memenuhi kebutuhan yang amat penting, yaitu peningkatan proses menyangkut klien/konsumen. Perusahaan yang memberi sedikit atau tidak ada integrasi sama sekali dengan konsumen, akan membuat kepuasan konsumen menurun secara drastis.
Pemecahan Masalah: menyingkirkan metode pemecahan masalah yang dipusatkan pada satu pihak. Para ahli menyarakan perusahaan2 agar meningkatkan integrasi dengan konsumen. Metode pemecahan masalah yang bersifat sentralis harus dibuang demi berbagi informasi tentang pemasaran, penjualan, dan servis.


Free Download Software Tata Letak Fasilitas(Pabrik)

Perencanaan Tata Letak Pabrik (PTLP) merupakan satuan mata kuliah Teknik Industri, dimana PTLP pada dasarnya merupakan proses pengurutan dari suatu perencanaan tata letak yang sistematis. Pemilihan lokasi pada dasarnya adalah menentukan suatutempat atau lokasi yang tepat untuk suatu perisahaan atauperkantoran atau lokasi untuk tujuan tertentu, denganmemperhitungkan kelebihan dan kekurangan lokasi tersebut.Dalam pemilihan lokasi kita akan membandingkan suatu lokasidengan lokasi lainnya, berdasarkan nilai break even pointlokasi tersebut.


Urutan proses tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
  1. Pemilihan Lokasi
  2. Opeation Process Chart (OPC)
  3. Routing Sheet
  4. Multi Product Process Chart (MPPC)
  5. Menentukan Gudang
  6. Ongkos Material Handling (OMH)
  7. From To Chart (FTC)
  8. Outflow, Inflow
  9. Tabel Skala Prioritas (TSP)
  10. Activity Relationship Diagram (ARD)
  11. Activity Relationship Chart (ARC)
  12. Area Alocation Diagram (AAD)
  13. Template

Di bawah ini, saya tawarkan beberapa solusi dalam membantu permasalahan mengenai mata kuliah Perencanaan Tata Letak Pabrik (PTLP).

DOWNLOAD FILE 1DOWNLOAD FILE 2
Sekilas tentang PTLP dapat Anda Download disini
DOWNLOAD FILE

Password = ddBetadx

Sumber : prabudx.blogspot.com

Rough Cut Capacity Planning (Rccp) Dan Capacity Requirement Planning (Crp)

Rough Cut Capacity Planning (Rccp)
RCCP dapat didefinisikan sebagai proses konversi dari Rencana Produksi dan atau MPS ke dalam kebutuhan kapasitas yang berkaitan dengan sumber – sumber daya kritis, seperti : tenaga kerja, mesin dan peralatan, kapasitas gudang, kapabilitas pemasok material dan parts, dan sumber daya keuangan. RCCP ditampilkan dalam suatu diagram yang dikenal sebagi Load Profile untuk menggambarkan kapasitas yang dibutuhkan versus kapasitas yang tersedia.Load Profile didefinisikan sebagai tampilan dari kebutuhan kapasitas di waktu mendatang berdasarkan pesanan-pesanan yang direncaanakan dan dikeluarkan sepanjang suatu periode waktu tertentu. RCCP (rough cut capacity planning) dapat juga diartikan perencanaan kapasitas “kasar” untuk menguji kelayakan MPS (master production schedule), dikaitkan dengan kapasitas yang tersedia.
Contoh Load Profile :









Validasi pada RCCP dikatakan layak apabila kapasitas yang dibutuhkan semuanya dapat dipenuhi oleh kapasitas tersedia.

Capacity Requirement Planning (Crp)
CRP merupakan tahap penentuan kapasitas yang dibutuhkan sesuai hasil MRP. Kebutuhan kapasitas akan dibandingkan dengan kapasitas yang dapat digunakan. Modifikasi dilakukan dengan menambah overtime, merubah routing (urutan proses), dan sub kontrak. Ketika kapasitas yang dapat digunakan tidak dapat mencukupi, meski telah dilakukan modifikasi, maka perlu dilakukan perubahan MPS. Masalahnya, revisi MPS akan merevisi MRP dan output kebutuhan kapasitas juga berubah.
Perencanaan kebutuhan kapasitas (CRP) adalah Suatu perincian membandingkan kapasitas yang diperlukan oleh rencana kebutuhan material (MRP) oleh pemesanan sekarang dalam proses verifikasi yang mendasari dalam membuat suatu akhir penerimaan terhadap pengendali jadwal produksi (MPS) (Fogarty dkk, 1991). Tujuan utama dari CRP adalah menunjukkan perbandingan antara beban yang ditetapkan pada pusat-pusat kerja melalui pesanan kerja yang ada dan kapasitas dari setiap pusat kerja selama periode waktu tertentu(Garpezs, 1998).
Input dan Output dari CRP (Garpezs, 1998):
a. Input dari CRP:
1) Schedule of planned factory order releases : merupakan salah satu output dari MRP. CRP memiliki dua sumber utama dari load data, yaitu: (1) Scheduled receipts yang berisi data order due date, order quantity, operations completed, operations remaining,dan (2) planned order releases yang berisi dataplanned order releases date, planned order receipt date, planned order quantity.Sumber-sumber lain seperti: product rework, quality recalls, engineering prototypes, excess scrap, dan lain-lain, harus diterjemahkan ke dalam satu dari dua jenis pesanan yang digunakan oleh CRP itu
2) Work order status: informasi status ini diberikan untuk semuaopen orders yang ada dengan operasi yang masih harus diselesaikan, work center yang terlibat dan perkiraan waktu.
3) Routing data: memberikan jalur yang direncanakan untuk factorymelalui proses produksi dengan perkiraan waktu operasi. Setiappart, assembly, dan produk yang dibuat memiliki suatu routingyang unik, terdiri dari satu atau lebih operasi. Informasi yang diperlukan untuk CRP adalah: operations number, operation, planned work center, possible alternate work center, standard setup time, standard run time per unit, tooling needed at each work center, dan lain-lain. Routing memberikan petunjuk pada proses CRP sebagaimana layaknya BOM memberikan petunjuk pada proses MRP.
4) Work center data: data ini berkaitan dengan setiap production work center, termasuk sumber-sumber daya, Standar-standar utilisasidan efisiensi, serta kapasitas. Elemen-elemem data pusat kerja adalah: identifikasi dan deskripsi, banyaknya mesin atau stasiun kerja, banyaknya hari kerja per periode, banyaknya shifts yang dijadwalkan per hari kerja, banyaknya jam kerja per shift, faktorutilisasi & efisiensi.
b. Output dari CRP:
1) Laporan beban pusat kerja (Work center load report), Laporan ini menunjukkan hubungan antara kapasitas dan beban. Apabila dalam laporan ini tampak ketidakseimbangan antara kapasitas dan beban, proses CRP secara keseluruhan mungkin perlu diulang. Work center load profile sering ditampilkan dalam bentuk grafik batang yang sangat bermanfaat untuk melihat hubungan antara beban yang diproyeksikan dan kapasitas yang tersedia, sekaligus mengidentifikasi apakah terjadi kelebihan atau kekurangan kapasitas. CRP biasanya menghasilkan Workt center load profile untuk setiap pusat kerja yang diidentifikasi dalam pabrik. Perbandingan antara beban dan kapasitas dapat juga ditampilkan dalam format kolom.
2) Perbaikan Schedule of planned factory order releases. Perbaikanjadwal ini menggambar bahwa output dari MRP disesuaikan terhadap Specific release dates untuk factory orders berdasarkan perhitungan keterbatasan kapasitas. Perbaikan schedule of planned factory order releases merupakan output tidak langsung (indirect output) dari proses CRP sebab mereka adalah hasil darihuman judgements yang berdasarakan pada analisis dari output laporan beban pusat kerja (Work cente load reports). Salah satu pilihan penyesuaian yang mungkin, di samping perubahan kapasitas, adalah mengubah planned start datesyang dibuat melalui rencana MRP. Hal ini mempunyai pengaruh terhadap pergeseran beban di antara periode waktu untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik.

Metode Monte Carlo & Contoh Studi Kasus

Metode Monte Carlo adalah algoritma komputasi untuk mensimulasikan berbagai perilaku sistem fisika dan matematika. Penggunaan klasik metode ini adalah untuk mengevaluasi integral definit, terutama integral multidimensi dengan syarat dan batasan yang rumit.


Metode Monte Carlo sangat penting dalam fisika komputasi dan bidang terapan lainnya, dan memiliki aplikasi yang beragam mulai dari perhitungan kromodinamika kuantum esoterik hingga perancangan aerodinamika. Metode ini terbukti efisien dalam memecahkan persamaan diferensial integral medan radians, sehingga metode ini digunakan dalam perhitungan iluminasi global yang menghasilkan gambar-gambar fotorealistik model tiga dimensi, dimana diterapkan dalam video games, arsitektur, perancangan, film yang dihasilkan oleh komputer, efek-efek khusus dalam film, bisnis, ekonomi, dan bidang lainnya.
Karena algoritma ini memerlukan pengulangan (repetisi) dan perhitungan yang amat kompleks, metode Monte Carlo pada umumnya dilakukan menggunakan komputer, dan memakai berbagai teknik simulasi komputer.


Algoritma Monte Carlo adalah metode Monte Carlo numerik yang digunakan untuk menemukan solusi problem matematis (yang dapat terdiri dari banyak variabel) yang susah dipecahkan, misalnya dengan kalkulus integral, atau metode numerik lainnya.


Strategi Dasar Metode Monte Carlo
Meskipun kekuatan metode Monte Carlo adalah mengevaluasi integral multi dimensi, tetapi metode ini bisa memberikan ilustrasi ide dasar pada situasi 1 dimensi dengan sangat mudah. Tinjau suatu bentuk integral sebagai berikut:
http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_Monte_Carlo
http://alifis.files.wordpress.com/2009/09/bab-vi-pengantar-monte-carlo.pdf




Problematika Penentuan Sampel dalam Penelitian bidang Perumahan dan Permukiman

http://ec.europa.eu/information_society/activities/egovernment/images/project_logos/sample.jpgAbstrak
Sampel merupakan faktor penting dalam penelitiankarena sangat diminimalkan untukmenghasilkan sampel yang tingkat akurasi, validitas danreliabilitasnya tinggi. Pemenuhan kriteria sampel sangat dipengaruhioleh pilihan teknik penentuan sampel yang prosedurnya merujuk padasampling frame,ukuran, dan tipe sampel penelitian. Penentuan sampel bisa menjadimasalah bila peneliti tidak tepat dalam memahami aspek-aspek pentingyang terkait dengan penentuan sampel, yaitu tingkat kompleksitaspermasalahan, keragaman populasi penelitian, rumusan tujuan sertaberbagai kendala dan batasan yang ada. Penelitian di bidang perumahandan permukiman yang multi -dimensi dan mencakup wilayah yang luasmemerlukan strategioptimasi dalam penentuan sampel agar diperoleh hasil penelitian yangberkualitas.

Kata kunci:
Penentuan sampel,strategi optimasi, perumahan dan permukiman


1. Pendahuluan

Penentuansampel merupakan proses yang cukup kritis dalam penelitianperumahan dan permukiman, karena akan sangat menentukan tingkatgeneralisasi yang dapat dicapai dalam suatu penelitian. Begitupentingnya kualitas sampel, sehingga hasil penelitian dianggap tidakbernilai apabila sampel yang digunakan tidak memenuhi persyaratanakurasi, kesahihan serta keandalan (Neuman, 2000; Losh, 2000; danSchwartz et.all, 1981). Beberapa kajian bahkan menyebutkan bahwapada kondisi populasi yang paling idealpun, pengambilan sampel secaratepat untuk suatu permasalahan penelitian merupakan pekerjaan yangpenuh tantangan, karena akurasi parameternya tak pernah diketahuisecara mutlak.

Kesulitandalam penentuan sampel penelitian umumnyaterkait dengan upaya pemenuhan kriteria sampel yang baik, yaitumemenuhi syarat akurasi dan dapat menghasilkan data yang validitasdan reliabilitasnya memadai (Friedrich,2003). Validitas data dapatdilihat dari ketaatan peneliti menggunakan prosedur untuk mengambildata (sampel), sedangkan reliabilitas data diindikasikan dengantingkat keterwakilannya terhadap populasi penelitian (Neuman, 2000).Namun demikian sampel yang baik tidak mudah diperoleh mengingat masihbanyaknya kendala seperti keterbatasan biaya dan waktu penelitianserta kesalahan-kesalahan penentuan sampel yang tidak disadari olehpeneliti (Losh,2000).

Dalampenelitian di bidang perumahan danpermukiman, penentuan sampel sangat perlu diperhatikan, mengingatkarakteristik permasalahannya yang multi dimensi, sangat beragam danluas cakupan wilayah populasinya. Peneliti akan selalu berhadapandengan pertanyaan kritis sebagai berikut: apakah sampel yang diambilsudah mewakili populasi yang ada, dan mempunyai tingkat kesahihan dankeandalan yang tinggi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, jawabanatas pertanyaan-pertanyaan tersebut masih harus diuji dengan batasananggaran dan waktu penelitian (Losh, 2000; Peterson, 1999; Neuman,2000; Freedman,2004).

Untukmendapatkan sampel yang berkualitas dalam penelitian di bidangperumahan dan permukiman, peneliti juga harus meminimumkan kesalahandalam pengambilan sampel. Untuk itu peneliti perlumemahami dengan baik problematikapenentuan sampel, sehingga diperoleh strategi yang optimal dalampenentuan sampel penelitiannya.

2. Beberapa Istilah Penting dan Isu diSekitar Penentuan Sampel
Pemahamanterhadap beberapa istilah yang selalumuncul dalam prosedur penentuan sampel penelitian sangat diperlukan.Di bawah ini adalah definisi beberapa istilah yang dirangkum dariberbagai sumber :
  • populasi: himpunan unit penelitian yang lengkap / utuh terdiri dari nilai/skor/ukuran peubah-peubah yang bersifat majemuk
  • sampel:bagian dari populasi yang memberikan keterangan atau data untuk suatu penelitian yang terdiri dari nilai/ skor/ukuran peubah-peubah yang bersifat terbatas jumlahnya. Sampel diperlukan jika populasi penelitian relatif besar
  • unit analisis: unit yang menjadi tempat untuk mengumpulkan informasi
  • sensus: sampel yang mencakup seluruh populasi
  • statistik: rangkuman deskriptif peubah-peubah dalam sampel yang nilainya dihitung berdasarkan sampel. Variasi nilai statistik tergantung pada sampel yang dipilih
  • kerangka sampel (sampling frame) : daftar semua unsur dalam populasi yang akan menjadi sumber informasi untuk menarik sampel penelitian
  • keterwakilan sampel(representativeness):tingkatan yang menunjukkan kesesuaian suatu sampel terhadap populasi sasaran penelitian dalam hal karakteristik utamanya.
  • kesalahan dalam penentuan sampel: ketidaksesuaian antara data yang diambil dari sampel dengan data populasi yang sebenarnya akibat kesalahan proses penentuan sampel

Padaumumnya peneliti tidak dapat melakukan pengamatan secaralangsung terhadap semua unit atau individu yang ada dalam populasipenelitian. Sebagai gantinya mereka mengambil data dari sebagianpopulasi – yang disebut sampel, dan menggunakannya untuk meyimpulkan keadaan seluruh populasi yangditeliti. Melalui pengambilan sampel maka jumlah pengukuran yangdilakukan akan berkurang dan pada gilirannya akan dapat mengurangibiaya dan waktu yang diperlukan untuk melakukan penelitian.

Idealnya,sampel mempunyai kesesuaian karakteristikdengan populasinya yang diamati, sehingga kesimpulan peneliti benaruntuk semua populasi. Kesesuaian karateristik antara sampel denganpopulasinya (representasi) ini merupakan hal yang paling penting danakan menentukan kualitas penelitian. Ada 3 faktor yang mempengaruhitingkat keterwakilan suatu sampel, yakni ukuran sampel, variabilitaspopulasi serta fraksi populasi yang diambil sampelnya (Freedman,2004). Sampel yang tinggi tingkat keterwakilannya secara ilmiahmenghasilkan informasi tentang komposisi seluruh populasi.

Perkiraantentang populasi tersebut dapat diperolehdari daftar atau peta informasi yang sering disebut kerangka sampel(sampling frame).Jika kerangka sampel yang digunakan tidak lengkap atau kurang akurat,maka akan terjadi kesalahan sistematik dalam penarikan sampel. Jikasampel ditentukan dengan cara yang benar dan dengan kerangka sampelyang lengkap, maka tidak akan terjadi kesalahan sampel, bahkan untuksampel yang ukurannya sangat kecil sekalipun.

Tingkatketerwakilan sampel seringkali dipengaruhioleh ukuran sampel yang diambil, terutama jika populasi penelitiannyasangat besar. Logikanya, untuk mendapatkan tingkat keterwakilansampel yang tinggi, diperlukan ukuran sampel yang besar pula (Neuman,2000). Jika populasinya besar, penentuan sampel menjadi tidak praktisdan terkadang sulit dilakukan karena tujuan utama pengambilan sampeladalah efisiensi biaya dan waktu. Namun demikian, ukuran sampelbukan jaminan untuk menghasilkan sampel yang representatif. Ukuransampel besar jika tidak diambil secara acak atau tanpa kerangkasampel yang lengkap, akan kurang representatif dibandingkan dengansampel yang kecil (Freedman, 2004).

3. Karakter Penelitian Perumahan danPermukiman
Perumahandan permukiman merupakan bidang kajian yang sangat luas danmulti-disipliner. Permasalahannya terkait dengan faktor ekonomi,budaya, sosial, demografik, geografi, politik, lingkungan, sertapenanganannya melibatkan berbagai stakeholdersseperti pemerintah, perencana, arsitek, pengembang dan masyarakatsendiri (Vliet, 2003; Taha, 2004).Dimensi-dimensi kemanusiaan dan dinamika proses yang terjadi didalamnya juga menjadikan permasalahan perumahan dan permukiman sangatkompleks (Berk, 2003).

Kondisi-kondisidi atas mempunyai implikasi yang cukup luas terhadap berbagai aspekdalam penelitian perumahan dan permukiman. Selain itu para penelitidi bidang perumahan dan permukiman memiliki sudut pandang dankepentingan yang berbeda-beda. Peneliti yang berlatar belakangdisiplin ekonomi akan mengembangkan tajuk penelitian yang berbedadengan mereka yang berlatar belakang budaya (Vliet, 2003). Perbedaanantara satu kajian dangan kajian lainnya terletak pada latarbelakang, tujuan, lingkup, fokus, pendekatan dan metode analisisnya.Karenanya penelitian perumahan dan permukiman dapat dilaksanakandalam berbagai situasi dan kondisi, latar belakang, karakteristik baik secara kualitatif maupun kuantitatif. (Taha, 2004).

Penelitianbidang perumahan dan permukiman pada dasarnya berusaha menjawabmasalah pemenuhan kebutuhan akan hunian yang berkaitan dengankualitas hidup, kepuasan terhadap lingkungan perumahan, sertapemenuhan berbagai faktor seperti kesehatan, sosial, estetika,biologi dan lainnya. (Schöner, 2003). Sesungguhnya pemenuhankebutuhan tersebut mempunyai variasi kemungkinan yang tak terbatasdalam hal lokasi, pengaturan, ukuran, bentuk, ruang, dan tatananlingkungan (Berk, 2003). Keragaman karakter tersebut jugamemungkinkan penelitian di bidang perumahan dan permukiman dilakukandengan berbagai pendekatan atau metode penelitian, mulai dari yangsederhana hingga kombinasi prosedur yang kompleks sesuai denganmasalah penelitian yang akan dicarikan jawabannya.

Dalampenelitian di bidang perumahan danpermukiman dikenal beragam metode: studikasus, survei, eksperimen, kaji tindak(Giuliani,1997; Schörner, 2003). Pilihan metode yang digunakansangat tergantung pada problematika dan substansi yang ada. Sesuaidengan tingkatan metodenya, penelitian di bidang perumahan danpermukiman dibedakan ke dalam 3 tingkatan, yakni tingkat makro,meso, dan mikro (Schörner, 2003). Penelitian tingkat makro (sosial)merujuk pada penelitian terstruktur seperti survei jajak pendapat(misalnya: tentang kualitas perumahan, jenis permintaan untuk flatdan rumah baru, dsb) dan juga pertanyaan survei teknis yang terkaitdengan lingkungan (misalnya: tentang konsumsi dan konservasi energiyang dikaitkan dengan kondisi jendela, insulasi, unit pemanas dsb).Sementara penelitian tingkat mikro (operasional) terkait denganmetode wawancara pribadi untuk penelitian perumahan di kota kecil hingga metoda studi kasus. Di antara ke duanya terdapat tingkat meso(struktural) yang berupaya mengisi kekosongan yang ada di antaratingkat makro dan mikro. Pada tingkatan ini fokus penelitian adalahpada bagaimana berbagai keterkaitan antara berbagai proses dalambermukim disusun dan juga pada bagaimana pengetahuan tentangperumahan dan permukiman dihasilkan dan dipilih.Penelitian-penelitian pada tingkat ini merupakan inti dari prosespembelajara. Penelitian tingkat meso misalnya, tentang PengaruhKeberadaan Rumah Kosong pada Tingkat Keamanan pada Permukiman diKawasan Perkotaan.

Perumusantujuan penelitian di bidang perumahan dan permukiman sangattergantung pada pihak yang akan menggunakan atau memanfaatkan hasilpenelitian, seperti misalnya : pengembang, koperasi perumahan,perusahaan konstruksi, bank perumahan, perancang dan perencana, sertailmuwan dan pengambil kebijakan publik. Masing-masing penggunamempunyai kepentingan dan kebutuhan yang rentangnya mencakuppengembangan teoritis-metodologis, tinjauan aspek ekonomi perumahan,serta kajian praktis-aplikatif (Giulinani, 1997, Schörner, 2003).
4. Penentuan Sampel dalam Penelitianbidang Perumahan dan Permukiman
Dalamproses penelitian di bidang perumahan dan permukiman, dan jugapenelitian pada umumnya, terdapat beberapatahap yang mempunyai kaitan dengan problematika penentuan sampelnya.Secara garis besar proses penentuan sampel penelitian di bidangperumahan dan permukiman dapat digambarkan dalam suatu diagram alur(Diagram 1) di mana beberapa tahap di dalamnya merupakan bagian yangkritis karena berkaitan erat dengan problematika penentuan sampel.

4.1.Penentuan populasi penelitian
Pengidentifikasianpopulasi penelitian secara hati-hati merupakan hal pertama yang harusdilakukan dalam penarikan sampel. Untuk ituperlu dijelaskan target populasi yang akan distudi, dengan membuatdaftar panjang tentang semua atribut yang diyakini dapat tercerminsecara tepat dalam sampelnya (Freedman, 2004). Daftar tersebut dapatberupa karakter demografi, gaya hidup, tipe rumah atau atribut yangsesuai dengan kepentingan penelitian dan dapat digunakan untukmemperkirakan populasi secara lebih rinci berdasarkan unit / satuansampel, lokasi geografis, serta batas sementara populasinya (Neuman,2000).

Penentuanpopulasi penelitian di bidang perumahan danpermukiman akan relatif sederhana untuk beberapa kelompok studitertentu, misalnya semua penghuni rumah di kecamatan A antara tahun1995 -2000. Namun pendefinisiannya akan makin sulit jika populasiyang dimaksud adalah orang yang tidak mempunyai rumah (homeless).Apakah yang termasuk dalam populasi mencakup mereka yang tidur ditempat sembarangan, mereka yang dianggap sebagai gelandangan, ataukahmereka yang tinggal di lahan-lahan ilegal sepanjang jalur kereta?Kelompok-kelopok tersebut mungkin dapat masuk dalam populasipenelitian, namun penentuan yang lebih pasti akan sangat tergantungpada tujuan penelitian yang dilakukan, kepentingan pengguna hasilpenelitian, dan sumber daya yang tersedia, sehingga mungkin tidaksemua kelompok tadi menjadi prioritas untuk diteliti.
    1. Menetapkan metode pengumpulan data
Dalampenelitian ilmiah, untuk menjelaskan suatufenomea atau membuktikan suatu dugaan diperlukan sejumlah informasidan data, baik kualitatif maupun kuantitatif (Neuman, 2000). Sebagaicontoh, penelitian eksploratif dimaksudkan untuk memberikan pemahamandan penjelasan awal tentang suatu fenomena secara kualitatif.Penelitian jenis ini didukung oleh sample non-acak dengan teknikpengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompokterfokus, serta pengamatan lapangan. Sementara penelitianeksplanatori biasanya menggunakan data kuantitatif dan analisisstatistik untuk membuktikan dugaannya, ditunjang oleh data darisampel yang diambil secara acak melalui percobaan, survei, datasekunder serta pengamatan lapangan.

Keputusanpenggunaan metode pengumpulan data dalamsuatu penelitian akan tergantung pada ukuran sampel, biaya dan waktuyang tersedia, serta akses terhadap data (Taha, 2004). Dalampenelitian di bidang perumahan dan permukiman, semua metode dapatdigunakan untuk mendukung kebutuhan pengumpulan dan analisis data daninformasi. Khusus untuk penelitian kuantitatif, pilihan metodebiasanya didasarkan pada pertimbangan :keterwakilan, sumber bias sampel, tingkat kesalahan, tingkat responyang diperoleh (Freedman, 2004).
    1. Penentuan kerangka sample (sampling frame)

Pendefinisiankerangka sampel (samplingframe) merupakan bagian terpentingdalam proses pengambilan data (Heer,et.al, 2000). Untuk mendapatkansampel yang representatif, diperlukan kerangka sampel yang sedekatmungkin mewakili populasi dengan informasi-informasinya yang lengkap.Idealnya kerangka sampel mencakup seluruh informasi tentangunsur-unsur yang ada dalam populasi. Namun kesempurnaan kerangkasampel hanya tercapai jika setiap unsurnya muncul dalam daftar sekalisaja, tidak dua kali atau lebih (Neuman, 2000; Freedman, 2004).

Akurasikerangka sampel merupakan problematikatersendiri. Jika populasi penelitiannya sangat besar, maka daftarinformasi akan sangat banyak dan mahal (Losh,2000, Neuman,2000).Terbatasnya informasi dalam kerangka sampel akan menyebabkan definisikonseptual populasi tidak lengkap dan akibatnya penentuan sampel bisatidak sahih (valid). Dalam penelitian di bidang perumahan dan permukiman, hal yangpertama harus diperhatikan adalah sumber data yang akan digunakanuntuk menarik sampel. Sumber data yang dapat digunakan untukmenentukan kerangka sampel antara lain direktori realestate, daftar surat, daftar pembayarpajak bangunan, peta dan lokasi perumahan,daftar surat Ijin mendirikan bangunan (IMB)dan sebagainya.

    1. Menetapkan metode penentuan sampel

Pemilihanskema penentuan sampel (random ataunon-random) sangat tergantung pada ketersediaan kerangka sampel.Sampel acak (random) yang diperlukan untuk analisis statistikainferential menuntut persyaratan sebagai berikut: ukuran populasinyadiketahui, ukuran sampelnya jelas, dan semua unsur (keluarga, rumah)populasi mempunyai kesempatan sama untuk diambil sebagai sampel.Dengan demikian sampel dianggap merepresentasikan populasinya,sehingga dapat digunakan untuk menarik generalisasi pada tingkatrepresentasi yang terukur. Sebaliknya pengambilan sampel tak-acak(non-random) dapat dilakukan apabila tak dibutuhkan generalisasi danpenelitian perlu dilakukan secara cepat. Dalam sampel tak-acak unsurpopulasi dipilih atas dasar ketersediannya atau karena menurutpenilaian peneliti sampel tersebut cukup mewakili populasi, sesuaituntutan penelitiannya.

Setiapteknik penentuan sampel acak memulai prosedurnya dari kerangka sampelyang secara operasional mendefinisikan populasi sasaran.Yang paling sederhana di antara metodesampel acak adalah simple random sample(SRS), di mana setiap unsur dalam kerangka sampel mempunyai peluangsama untuk terpilih. Namun strategi ini jarang digunakan dalampenelitian perumahan dan permukiman, karena kesulitan untukmendapatkan daftar informasi yang sangat panjang dan sering takterkendali, akibat cakupan geografis populasi yang sangat luas danparameter yang sangat beragam (Neuman, 2000; Freedman, 2004).

Metodeberikutnya adalah systematic randomsample. Metoda yang merupakanmodifikasi dari SRS ini ditentukan dengan mulai memilih unsur dalamkerangka sampel secara acak dan mengambil setiap unsur yang ke n(misalnya mulai secara acak memilih lokasi dari buku daftar telopondan selanjutnya mengambil satu nama setiap 100 nama berikutnya).Dibanding SRS cara ini lebih mudah, khususnya untuk pelaksanaan dilapangan, dan lebih akurat. Penggunaan metoda ini dalam penelitianperumahan dan permukiman mempunyai masalah yang kurang lebih samadengan metode SRS (Fredman, 2004).

Metodeacak berikutnya adalah stratifiedsampling. Kadang-kadang kerangka sampelyang ada memuat berbagai informasi tentang karakter unsur populasi.Informasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan akurasi sampeldengan cara membedakannya berdasarkan unsur-unsur populasi tertentu.Sampel yang diambil dari setiapsub-populasi akan mempunyai tingkat keterwakilan yang lebih tinggi,dibandingkan dengan dua metode yang sebelumnya. Namun penentuanstratanya harus dilakukan dengan menggunakan kerangka sampel yanginformasinya lengkap dan akurat (Friedrich, 2003).

Sebagaicontoh, dalam survei kependudukan diAmerika, digunakan sample stratifikasi untuk mengidentifikasi unitsampel utama (PSU), sehubungan dengan penggunaan komputer secaraintensif dalam prosesnya (Ludington, 2003). Stratifikasimengelompokkan PSU ke dalam strata yang menjadi sumber pemilihansampel PSU. Strata yang dihasilkan selama proses harus homogen,sehingga perkiraan penelitian yang dihasilkan juga akan mencerminkanarea non-sampel secara akurat. Metodetersebut dipilih dengan pertimbangankebutuhan peningkatkan keandalan dan mengurangi biaya survei,pengembangan dan optimasi metode, serta penggunaan komputer secaraintensif untuk meyelesaikan problem yang kompleks. Dalam hal initingkat homogenitas strata dan pengurangan biaya survei tergantungpada kemampuan sistem stratifikasi PSU.

Gorsak,et.al (2003) juga menggunakan metodestratifikasi untuk meningkatkan efisiensi survei penelitian rumahtangga di Amerika. Metode stratifikasi sampel digunakan untukmengurangi keragaman variabel yang ada dalam PSU yang merupakanbagian dari populasi (rumah tangga di AS). Dalam hal ini populasiseharusnya distratifikasi pada tingkat unit rumah atau blok. Tetapidengan kendala waktu dan biaya, penelitian rumah tangga ini hanyadilakukan pada tingkat blok pada area yang populasinya distratifikasimemuat blok dan unit rumah.

Selainpenentuan sampel acak satu tahap, ada juga penentuan sampel yang dilakukan dalam beberapa tahap(multi-stage sampling). Cara inidigunakan jika tak tersedia kerangka sampel, atau karena sangat tidakpraktis jika sampel ditentukan dengan satu kerangka untuk seluruhpopulasi (Friedrich, 2002). Metode ini mulai dengan menentukan unityang terbesar (Primary Sampling Unit)dan dilanjutkan dengan yang lebih kecil (SecondarySampling Unit). Pada dasarnya metodeini menggunakan 2 langkah dasar: membuat daftar dan menentukansampel.

Skemayang termasuk dalam kategori ini adalahcluster sample. Sampel klusterdigunakan apabila tak tersedia kerangka sampel yang baik ataupopulasinya tersebar, sehingga biaya untuk mendapatkan sampel bakucukup mahal. Skema ini melibatkan beberapa tahap penentuan sampelyang ditentukan berdasarkan kelompok, bukan individu. Melaluiskema ini peneliti memilih sampel dalam kelompok area (misalnyapropinsi dalam negara, kota dalam propinsi), kemudian memilih satuunsur dari setiap kluster utama dalam area wilayah yang lebih kecil(secara acak atau sistematis), danselanjutnya menentukan jumlah unsur sampel yang disyaratkan dariarea-area tersebut.

Metodekluster mempunyai sisi positif dan negatif. Di satu sisi metodekluster mempercepat waktu survei danmengurangi biaya lapangan, namun di sisi lain metodeini mengurangi akurasi sampel, relatif terhadap sampel non-klusterdengan jumlah responden yang sama. Halini dikarenakan sampel kluster sedikit lebih homogen secara internaldibandingkan dengan sampel non-kluster. Akibatnya kluster sampelmeningkatkan kesalahan sampel (samplingerror) dan membutuhkan pertimbangankhusus dalam analisis datanya sertamenuntut ukuran sampel yang lebih besar.

Catatan penting yang perlu diingat berkaitan dengan metode kluster adalahbahwa hampir semua survei berskala besar dilakukan dengan menggunakanmetode ini. Selain itu metode ini dapat dikombinasikan dengan metodastratifikasi, biasanya dengan kluster dalam strata. Umumnya untukukuran sampel n yang diketahui, sampel kluster kurang akuratdibandingkan dengan tipe penentuan sampel lainnya, di manaparameternya diperkirakan akan mempunyai variabilitas yang lebihbesar dibandingkan SRS, sampel acak stratifikasi ataupun acaksistematik.

Jenislain dari sampel bertahap adalah areaprobability sampling. Skema ini sangatmahal, tetapi berpeluang memberikan hasil yang terbaik untukmendapatkan sampel yang benar-benar mewakili seluruh populasinya.Metode ini digunakan jika tak ada kerangka sampel namun semua sampelingin dijangkau, tanpa perduli apakah sampel yang diperoleh masukdalam kerangka atau tidak. Dasarskema penentuan sampel ini adalah stratifiedmulti-stage cluster. Metode inidikembangkan untuk menghasilkan sampel yang sesuai prosedur penentuansampel acak, yang apabila dikombinasikan dengan statistik nasionalmemungkinkan untuk mendapatkan sampel nasional yang baik.

Dalammengambil sampel ijin pembangunan perumahan baru yang diterbitkandalam sepuluh terakhir, dipergunakan suatu metode guna mengendalikandeviasi ukuran sampel. Untuk itu digunakan metode areaprobablility sampling untuk memilih 2unit sampel (primary dan secondarysampling unit) yang populasinya sekirasetingkat blok perumahan, (Mohadjer, et.als,2003). Tambahan biaya takterhindarkan karena metode ini harus menggunakan semua area sampelpenting, untuk menjaga tingkat keterwakilan sampelnya. Namun tambahan biaya tersebut dapat ditutup oleh penghematan selama prosespengumpulan data, karena berkurangnya kegiatan perjalanan danpengamatan lapangan.

Sampelacak tidak selalu menjadi pilihan utama dalam penelitian di bidangperumahan dan permukiman. Dalam beberapa kasus sampel acak tidakmampu melibatkan kelompok minoritas dalam populasi. Ini merupakanproblem yang umum dijumpai peneliti di negara –negara berkembang,di mana umumnya tak tersedia kerangka sampel yang lengkap dan akurat.Untuk kondisi-kondisi tertentu, peneliti perumahan dan permukimanterpaksa menggunakan sampel tak-acak. Dengan teknik tersebut penelitidapat menunjukkan karakter khusus yang ada dalam populasi. Sampelacak tidak diperlukan jika peneliti inginmenjelaskan kondisi-kondisi yang khususdengan pendekatan eksploratif. Sampel acakyang terbaik tidak akan membantu meningkatkan akurasi hasilpenelitian jika tingkat respon sampelnya buruk(Losh, 2000).

Penentuansampel non-acak mempunyai beberapa teknik,yakni quota sampling,judgement sampling dansnowball sampling. Pada teknik quotasampling, berbagai strata dalampopulasi ditentukan dan kemudian diambil proporsi sampel yangdisyaratkan bagi setiap strata yang telah ditentukan. Teknik inikurang akurat, sehingga penelitian perumahan dan permikiman jarangsekali menggunakan metode ini. Namun teknik ini dapat digunakansebagai pendukung bila dikombinasikan dengan metode lain. Denganalasan memberikan kesempatan yang sama, maka Biro Sensus Amerikamenggunakan teknik quota sampledalam sensus demografi yang menggunakan surat atau kunjungan pencacahuntuk menjaring kelompok responden yang tidak menjawab pertanyaansurvei agar diperoleh tingkat keterwakilan yang optimal (Thibaudeaudan Navaro, 2001). Penggunaan sampel ini dimaksudkan agar sampel yangada lebih beragam sehingga akurasi datanya lebih maksmum.

Tekniksampel tak-acak yang lain adalah judgementsampling (purposivesampling). Sampel dipilih berdasarkanpada kondisi khusus yang dianggap mampu mengindikasikan karakterpopulasi. Sampel-sampelnya mempunyai karakteristik kunci yangmemungkinkan untuk dikaji dan diambil berdasarkan pertimbangan yangbersifat ilmiah. Dalam penelitian di bidang perumahan dan permukiman,teknik ini biasanya digunakan untuk menangani penelitian denganpendekatan kasus studi.

Snowballingsamplemerupakan metode lainnya dalam kategori sampel non-acak, biasanyadigunakan untuk menjelaskan pola sosial atau komunikasi suatumasyarakat. Sampel dikumpulkan dari suatu kelompok yang anggotanyasukar diakses, tanpa menetapkan kerangka sampel terlebih dahulu.Sampel diperoleh berdasarkan infomasi dari sampel sebelumnya dankarenanya metode ini tak menjamin sampel yang betul-betul mewakilipopulasinya, tetapi dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi yangrinci.

Snow,et.al (1979) menggunakan metode snowballingyang dikombinasikan dengan metode kluster untuk mengidentifikasisampel dari kelompok minoritas Spanyol yang tersebar di kota besar.Dengan metode ini diperoleh prosedur pemilihan sampel yang tidak sajaefisien, tetapi juga mampu menjaring sampel yang jarang. Pada kasusini individu-individu – orang Spanyol - yang sering terlihat didepan umum, atau yang punya banyak teman, mempunyai lebih banyakkemungkinan untuk dipilih dibandingkan mereka yang terisolasi.

    1. Menetapkan ukuran sampel
Padaumumnya ukuran sampel tergantung padakompleksitas karakter kajian, akurasi yang disyaratkan untukmendekati karakter-karater tersebut, dan sumberdaya yang tersedia.Idealnya sampel yang diambil ulang kapanpun, dengan ukuran danpopulasi yang sama, akan memberikan hasil yang identik denganpengambilan sampel sebelumnya (Taha, 2004). Memang tidak ada jawabanyang pasti untuk pertanyaan seberapa besar seharusnya ukuran sampelpenelitian. Prinsipnya akurasi data cenderung meningkat sesuai denganukuran sampel dan proporsinya terhadap populasi, dan karenanya makinbesar sampel yang diambil makin besar kemungkinan akurasi hasilpenelitian (Neuman, 2000; Sudradjat, 2000; Freedman, 2004).

Meskipopulasi dalam penelitian perumahan dan permukiman sangat besar,serta variabelnya sangat banyak tetapi ukuran sampelnyatidak harus besar. Ukuran sampel yang ideal tergantung pada tingkatakurasi yang disyaratkan, tingkat keragaman populasi dan jumlahvariabel yang akan diuji secara serentak dalam data analisis (Neuman,2000). Sampel yang besar terutama diperlukan dalam beberapa kondisisebagai berikut: populasinya sangat majemuk; data perlu dipecah dalambeberapa kategori; margin kesalahan yang dituntut relatif kecil; dantingkat respon diperkirakan sangat rendah (Fiedrich, 2003).

5. Kesimpulan

Penentuansampel merupakan tahap yang penting dalamproses penelitian, karena mempunyai implikasi signifikan terhadapkualitas hasil penelitian. Apabila sampel yang diambil salah, makageneralisasi yang dibuat pun akan salah. Untuk mendapatkan sampelyang mencerminkan kondisi populasi penelitian, diperlukan kriteriabaku seperti akurasi, kesahihan, keandalan serta penyesuaianterhadap kendala biaya dan waktu. Diperlukan kehati-hatian dalammenentukan teknik pemilihan sampel, khususnya dalam penelitian dibidang perumahan dan permukiman yang permasalahannya bersifatmultidimensional.

Padadasarnya pemilihan sampel secara acak(random sampling)merupakan pilihan yang paling logis untuk mendapatkan hasilpenelitian yang akurat. Berbagai skema penentuan sampel dalamkategori ini, baik dengan prosedur satu tahap ataupun multi-tahap(multistage)perlu disesuaikan dengan kondisi, topik serta tujuan penelitiannya.Sampel non-acak juga dapat digunakan dalam penelitian di bidangperumahan dan permukiman untuk kondisi-kondisi yang sesuai dengansifat penelitiannya.

Untuk memperoleh sampel terbaik pada penelitian yang variabelnya sangatbanyak, diperlukan strategi optimasi. Penentuan sampel sebaiknyamemenuhi semua tuntuan metodologis maupun substansial, tidak hanyadalam menentukan skema penentuan sampel tetapi juga untukmeminimumkan biaya dan waktu. Optimasi diperlukan karena keragamankarakter penelitian dan alternatif skema penentuan sampel terkadangmempunyai tuntutan berbeda dan sukar dipertemukan.

Beberapapreseden menyarankan perlunya kombinasi beberapa teknik sampel untukmendapatkan sampel yang optimum. Dalam kenyataannya tidak ada satuskema penentuan sampel yang betul-betul dapat memenuhi kriteriasampel yang baik. Penggunaan metode multi-tahap (multi-stage)dengan kombinasi beberapa skema penentuan sampel, baik dengan teknikacak maupun non-acak, menjadi strategi yang paling logis. Denganskema tersebut akan diperoleh sampel yang tidak hanya memenuhitingkat akurasi, keterwakilan yang memadai, tetapi juga secara cepatdengan biaya yang relatif murah.


A.Adib Abadi
DepartemenArsitektur, Institut Teknologiberpengaruh terhadap kualitaspenelitian yang dihasilkan. Kesalahan-kesalahan dalam penentuansampel harus Bandung
[adibabadi@ar.itb.ac.id]


DaftarPustaka

Berk,M Görkhan.(2003).“Assessment ofthe Effect of an External Factor for Dwelling Occupants’Satisfaction: Access to Basic Activities”. Methodologies inHousing Research Conference. 22-24 September, Sweden, Stockholm.

Freedman, DavidA.(2004).Sampling. Department of Statistic University ofCalifornia, Berkley.

Friedrich, GustavW.(2003).Sampling Theory. Methods of Inquiry Syllabus: 154.Fall.

Giulinai,M Vittoria.(1997).“Integrating differentmethod in housing research. A study in Amelia, Italia” in CaroleDespres and Denise Piche (Eds) HousingSurveys. Advances in Theory and Methods.Quebec, Canada: CRAD, Univerite Laval. pp. 229-245.

Gorsak,Mark; et.als.(2003).Within-PSUand Stratification Research to Improve SurveyEfficieny.US Bureau of the Census.

Heer, Wim F. de and GerMoritz.(2000).“Data Quality Problem in Travel Survey. AnInternational Overview”. Workshop on Respondet Issue: Sampling,Weighting and Nonresponse. Statistic Netherland.

Lawrence, RoderickJ.(2003).Methodologies in Contemporary Housing Research: A Criticalreview. Methodologies in Housing Research Conference. 22-24September, Sweden, Stockholm.

Losh, SusanCarol.(2000).“Types of Error and Basic Sampling Designs”. LectureHandout EDF 5481 Methods of Educational Research. Fall.

Ludington, PaulW.(2003).Stratification of Primary Sampling Units for the CurrentPopulation Survey Using Computer Intensive Methods. US Bureau ofCencus. Wahingtoon DC.

Mohadjer, Leyla; JillMontaquilla, and Erica Sherris. (2003).Evaluation of A Two-phaseApproach to Segment Selection for Area Probability Sampel Late in ADecade. Joint Statistical Meeting. Westat. Maryland. USA.

Neuman, W.Lawrence.(2000).Social Research Methods. Qualitativeand Quantitative Approaches. Allyn and Bacon. Boston.

Petersons,Ivan.(1999).“Census Sampling Confusion. Controversy dogs the use ofstatistical methods to adjust US population figures”. TheWeekly News magazine of Science. Volume 155, Number 10 (March 6).

Schörner, Georg; GerhardBonelli and Franz Schörghuber.(2003).Housing Research and It’sMethods in Lower Austria. The Lower Austrian Scientific Academy.Scientific Academy. Departement for Environment and Energy.

Schwartz, Sidney H.;Charles D Cowan; and Kenneth R Sausman.(1981). Optimisation in theDesign of large-scale State Sampel. US Bureau of Cencus.

Snow, Rob E., John D.Hutchenson, Jr., and James E. Prather.(1979).Using ReputationalSampling to Identify Residential Clusters of Minorities. Centerfor Urban Research and Service.

Sudradjat,Iwan.(2002).DiktatPerkuliahan AR 6122 Metodologi Penelitian Arsitektur.Program Magister Arsitektur – ITB.

Taha,Elhag.(2004).Research methods in housing. NewcastleUniversity, UK.

Thibaudeau, Yves; AlfredoNavarro (2001). Optimizing Sampel Allocation of The 2000Non-Response Follow-up. US Bureau of the Census, Washington DC.

Vliet, Willemvan.(2003).“So What if Housing Research is Thriving? ResearcherPerception of the Use of Housing Studies”. Journal of Housingand the Built of Environment. 18: pp.183-1999. Netherland : KuwerAcademic Publisher.

About Me

My Photo
Be a Good Engineer with Kamus Industri
 
Copyright © 2013. Kamus Industri | Informasi Seputar Teknik Industri - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger